Farha 2021

 

Tragedi Nakba atau dikenal dengan Bencana Palestina terjadi tahun 1948. Peristiwa yang mengakibatkan banyak orang palestina meninggalkan desanya karena di represi tentara Israel. Cukup miris melihatnya setelah peristiwa holocaust, dikemudian waktu orang israel malah merenggut tanah air etnis Arab-Palestina. Nakba akan selalu di kenang orang Palestina hingga generasi selanjutnya.


Film ini mengangkat kisah Farha(Karam Taher), anak perempuan berumur 14 tahun yang mengalami peritawa Nakba menimpa desanya. Pada mulanya saya pikir film besutan sutradara Darin J. Sallam akan menyorot kesuluruhan peristiwa Nakba, ternyata ia memilih untuk menangkap sisi personal yang di rasakan seorang anak perempuan yang hilang hari esoknya. Film bisa tergolong Art House karena familiar dengan alur lambat, tapi itu baru terasa ketika mulai ke bagian tengah film.


Pada hari-hari biasa, Farha bersama teman-temannya bermain di air terjun kecil dekat desa. Selesai bermain mereka kemudian mengaji tadarus Al-quran. Farha diperlihat berbeda dengan temannya, ketika sang guru ngaji berkata sudah cukup bagus bisa mengaji, farha ingin belajar lebih seperti laki-laki yang mengenyam bangku sekolah formal. Di nasehati untuk segera menikah, ia lebih memilih belajar banyak hal.


Farha setelah mengaji, bermain Farida(Tala Gammoh) sahabatnya. Ketika mereka berdua ngobrol, lewatlah pasuka inggris yang meninggalkan wilayah palestina. Di scene mulai tersa peristiwa Nakba akan semakin mendekat. Sepulang bermain Farha menjamu pamannya dari kota, ia menyela pembicaraan paman dan ayahnya, menanyakan untuk bisa mendaftarkan dirinya ke sekolah formal di kota. Ayahnya berkata akan diusahakan. Pamannya menawarkan untuk menyekolahkan Farha, Abu Farha mencoba akan memikirkannya. 


Di kemudian hari, Abu Farha mengejurkan Farha dengan Surat pendaftaran sekolah fomal di kota. Farha senang bukan main. Ia memegang surat itu sepanjang waktu. Tiba-tiba datang segerombolan orang bersenjata mencari Abu Farha, mereka di sambut ke dalam rumah Abu Farha. Ketika Farha menguping pembicaraan mereka, mereka sedang membahas tentang perang yang akan semakin mendekat. Pembicaraan selesai, mereka meninggalkan rumah abu farha.


Di pagi hari Farha terbangu, seperti merasa ada hal yang tiak baik datang. Ia kelua kamar, melihat ayahnya melumuri tembok dengan tanah liat. Siang hari ia bertemu Farida, Farha curhat kepadanya tenga rasa dilema ingin bersekolah tapi takut meninggalkan ayahnya. Tak terduga terdengan suara ledakan di dalam desa, Farha dan Farida berlari ke dalam desa. Farha sebenarnya bisa melarikan diri bersama keluarga Farida, tapi ia berlari begitu saja menghampiri ayahnya, Farha dan Farida terpisah.


Abu Farha membawa Farha ke dalam gudang rumah dan menguncinya. Ia berjanji akan menjemput Farha kembali, ia kemudia keluar rumah dengan menenteng senapan. Farha meronta-ronta, ia terisolasi dari dunia luar. Di fase ini mulai terasa mencekam, suara densingan senjata api meletup-letup, Farha tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Bagi Farha dunia liar hanya bisa di lihat melalui lubang kecil pintu gudang rumahnya. Ia melewati hari-harinya dengan perasaan menunggu, bosan, kelaparan, dan khawatir. Setelah beberapa hari, ada satu keluarga datang bersembunyi di rumahnya, keluarga Abu Muhammad. Istri Abu Muhammad melahirkan anaknya di rumah itu juga. Farha memanggil Abu Muhammad, ia meminta tolong untuk membukakan gudang yang di kunci ayahnya. 


Abu Muhammad mencoba mengeluarkankannya, tak berselang lama datang pasukan Israel dengan tawanan betopeng karung goni. Tentara Israel mengumpulkan mereka jadi satu, saat itu juga mereka ditembak mati. Farha bingung tak bisa berbuat apa-apa, melihat langsung peristiwa keji itu. Cukup mengagetkan Tawanan bertopeng itu ternyata ayah Farha, ia dipaksa menyisir wilayah desa untuk menyita senjata.


Tentara Isarel tak puas merampas senjata, merampas nyawa di rasa bisa menenngkan hari mereka. Farha akhirnya bisa keluar dari rumahnya, ia berjalan menuju air terjun desa dengan linglung. Sorot keputusasaan terpancar muram dari wajahnya, tak bisa bersekolah, kehilangan sahabat dan Ayahnya. Ia kemudian berjalan seprti tanpa arah keluar desa.


Cerita yang cukup personal dan sedih, melihat bagaimana dampak persitiwa Nakba merubah segalanya bagi orang palestina. Tentu kehilangan itu di wakili Farha, ia kehilangan segalanya. Film yang sangat personal dan tentu bisa bikin mencak-mencak Zionis di masa kini.






Komentar

Postingan Populer