Guillermo del Toro's Pinocchio 2022




Pinocchio sebuah masterpiece kartun yang berkali-kali ke layar lebar. Kali ini Pinocchio di tafsir ulang oleh Guillermo Del Toro. Dengan mengandeng Matthew Robbins sebagi penulis cerita, Pinocchio Del toro ini sudah pasti akan lebih dalam dan gelap penceritaannya. Dua bulan sebelumnya disney juga merilis remake live action versi mereka untuk segmen anak-anak.

Penceritaan film dimulai dari latar waktu ketika Geppeto(David Bradley) kehilangan Carlo anak satu-satunya. Cukup gelap penyebab kematian Carlo. Ketika ia sedang membantu gepetto memasang patung salib dari kayu, tiba-tiba saja ada sebuah misil pesawat yang menyasar ke gereja. Patut diketahui dunia di film ini berlatar di Italia pada masa perang dunia. Gepetto hancur sehancur-hancurnya karena telah kehilangan anak satu-satunya. 

Sebuah pembukaan yang cukup sedih ketika melihat gepetto bertahun-tahun mabuk menangis di depan makam anaknya. Suatu waktu gepetto menebang pohon di samping makam anaknya dengan marah dan bersumpah akan menghidupkan kembali Carlo melalui patung yang ia buat. Seperti cerita klasiknya, datang seorang peri biru menghidupkan boneka kayunya agar bisa menemani dan memberi kebahagiaan kepada gepetto. Peri biru di film ini diilustrasikan dengan bentuk yang magis dan serius menyerupai mahluk mitologi, tidak seperti bentuk peri pada umumnya.

Yang menjadi unik dari film ini adalah ketika Gepetto itu mengetahui boneka yang ia buat hidup, tapi tidak merasa senang bahkan ketakutan dengan boneka Pinocchio (Gregory Mann) yang hidup itu. Cerita berlanjut dengan kemunculan karakter bernama Podesta (Ron Perlman) yang selalu membanggakan anaknya sebagai "pemuda fasis teladan".

Alur berlanjut seperti kisah klasiknya, ketika si Pinocchio disuruh oleh gepetto untuk bersekolah, tengah jalan ia dihalangi oleh Count Volpe dan dipaksa untuk ikut grup pertunjukan sirkusnya. Del Toro menyajikan bagaimana Pinocchio bisa mengolok-olok ideologi fasisme di depan Mussolini secara langsung ketika sedang pentas pertunjukan sirkusnya.

Sebuah tafsir ulang Pinocchio yang lebih dalam dan lebih gelap oleh Del Toro. Kendati demikian, ia mampu mengemas film ini dengan hati dan jiwa yang hangat. Sebuah surat cinta kepada dongeng masterpiece dunia.


Pemeran

Komentar

Postingan Populer