Holy Spider 2022
Melampaui batas dalam beragama memang sangat berbahaya, tapi apa jadinya sudah terlalu fanatik dibarengi dengan psikopat?. Kesucian kepercayaan bisa mudah ternoadai hanya karena hati manusia yang benar sendiri. Meyakini tindakan yang dirasa benar tapi dengan menginjak hidup orang lain. Si pembunuh menargetkan PSK sebagai korbannya, ia meyakini tindakannya sebagai wujud jihad membersihkan dekadensi moral. Setiap membunuh korban ia yakin telah jadi pahlawan kota Masshad dan orang yang paling dekat dengan Tuhan.
Holy Spider, film yang bercerita tentang Rahimi (Zar Amir-Ibarhimi) seorang jurnalis perempuan datang ke kota Mashhad Iran untuk melakukan investigasi, sebuah kasus pembunahan PSK tidak pernah terpecahkan siapa pembunuhnya. Ketika sampai di Hotel yang Rahimi reservasi, sempat dibatalkan oleh resepsionis karena ia seorang perempuan tanpa suami yang memesan. Memesan kamar sendiri tentu tidak boleh, ia tunjukan kartu pers kemudian baru diperbolehkan. Adegan itu cukup menunjukan bagaimana ruang gerak perempuan sangatlah terbatas di kota Mashhad. Film yang disutradarai oleh Ali Abbasi sekaligu penulis cerita bersama Afshin Kamran Bahrami dan Jonas Wagner.
Rahimi bersama koleganya Sharifi (Arash Ashtiani) mengumpulkan petunjuk. Sharifi sering mendapat telepon dari pelaku yang selalu meminta aksi kejahatnya di beritakan sebagai kisah kepahlawan moral, ia berhasil merekam pembicaraannya. Rahimi mendatangi kantor polis, ia bertemu dengan kepala kepolisian untuk meminta dokumen penyelidikan kasus pembunuhan. Berbekal rokok malboro merah ia tawarkan kepada poilisi agar mau memberikan berkas, tapi si polisi tetap tidak.
Si pelaku Saeed (Mehdi Bajestani) bapak dua anak berprofesi sebagai tukang bangunan. Ada scene dimana Saeed di perlihatkan emosinya kurang stabil, kurang menyayangi istri dan anak-anaknya. Ketika Saeed bersama bapaknya di dalam mobil mencurahkan harapannya agar perang tidak segera berkhir. Dalam perang ia bisa berjihad dengan bangga menumpas kekufuran, dengan kondisi damai ia tidak bisa mencapai hal itu. Bapaknya mencoba untuk mengerti, menasehatinya bahwa jalan jihad itu tuhan yang menentukan, bukan kehendak manusia sendiri. Adegan ini menggambarkan dengan jelas motif pembunuhan Saeed, ia kecewa tidak bisa menggapai amalan jihad di masai. Di pilihlah PSK sebagai target jihadnya, kenapa? ya karena mereka dianggap lemah tak berdaya. Mudah bagi Saeed melancarkan aksinya, cukup berpura-pura sebagai pelanggan PSK. Digunakan motornya untuk mendatangi korban, ia bawa kerumah dan dengan mudah ia melancarkan aksinya.
Selama proses invertigasi, Rahimi memperoleh petunjuk dari seorang petugas taman kota. Si petugas taman sering melihat Saeed membawa PSK itu pergi bersamanya. Memupuk keberanian rahimi kemudian berpura-pura menjadi PSK. Saeed termakan umpannya Rahimi, ia bawa ke rumahnya. Sayanng Sharifi kehilangan jejak mereka ketika mengejarnya. Rahimi harus sendrian mengahdapi Saeed. Cukup mencekam, menerka-nerka apakah Rahimi bisa lolos?. Ia berhasil lolos dengan berteriak cukup kencang hingga cukup mengganggu tetangga Saeed, Rahimi berhasil lolos. Keesokan harinya Saeed berhasil diringkus polisi.
Ali Abbasi sangatlah lihat memperlihatkan bagaimana kesadisan pembunuh dalam melancarkan aksinya bersamaan kesolehannya dalam beribadah. Ia tidak menghakimi mereka yang rajin beribadah, tapi mensorot bagaimana perasaan manusia bisa terlampau batas dalam menafsir amalan agama. Padahal si pelaku punya kewajiban yang lebih penting dari berjihad, ya membahagiakan keluargnya seaharusnya dilihatnya sebagai wujud berjihad juga. Sifat psikopat pelaku diperlihatkan dengan senyuman tersirat setalah berhasil mencekik mati si korban, bahkan sampai-sampai menjilat leher korban, di luar nalar pokoknya huff.
Ali berhasil menunjukan bagaiman kegighan Rahimi dalam mengungkap kasus pembunuhan, walau terkadang ia direndahkan dan mendapatkan perlakuan buruk petugas kepolisian karena ia perempuan. Yang menjadi catatan adalah hasil kerja jurnalis rahimi jarang terlihat di film. Memang ia berhasil menyeret pelaku ke meja pengadilan, tapi bukankah seharusnya kerja jurnalis investigasinya bisa di tampakkan memasuki opini publik Iran. Hampir mayoritas mendukung aksi pelaku karena mewujudkan pembersihan moral yang tak teratasi oleh polisi. Secara keselurahan film berhasil menyorot ke dinamikan masyrakat iran dalam menghadapi kasus serial kiiler ini, pro dan kontra terhadap pelaku tapu yang utama adalah kemanusiaan.
Tidak disarankan untuk penonton yang memeliki trauma kekerasan.
Komentar
Posting Komentar