Wandering 2022

  


    Sinema tema tepi jurang pantas sematkan pada film ini. Bagaimana tidak, film ini mengangkat isu yang tabu di Jepang, ya pedhofilia. Cerita berpusat pada hubungan  pelaku dan korban pedhofilia yang setelah belasan tahun sejak penangkapan tidak sengaja bertemu kembali, kerumitan demi kerumitan menjalari pertemuan mereka. Nilai moral dan kemanusiaan di tumpah ruahkan, seakn keduanya dalam realitas seperti air dan minyak, tidak bisa bersatu.

    Sinema di buka dengan scene tempat kerja Sarasa Kanae (Suzu Hirose) sebuah restoran. Segerombolan bocah yang sedang makan asyik melihat video penangkapan pelaku pedhofilia, yang kelak nanti di ketahui bahwa itu adalah peristiwa yang menimpa Sarasa. Sepulang kerja Sarasa bersama temannya mencoba untuk mencari tempat minum sake, tapi yang ditemukan adalah cafe nyentrik dan remang. Di situ mereka hanya dapat memesan kopi, tiba-tiba tatapan Sarasa seperti kaget dan malu-malu ketika tahu barista yang melayani mereka adalah Fumi Saeki (Tori Matsuzaka), sang terduga pedhofil.

    Film ini seperti memberi pilihan pada penonton dalam melihat sebuah peristiwa, tidak ada tendesi untuk menentukan atau menghakimi mana yang benar dan salah. Semua dibuka dengan segamblang mungkin. Bukan tanpa sebab Sarasa mau mengikuti Fumi ke rumahnya, bahwa tempat tinggal sarasa (rumah paman dan bibinya) menjadi tempat yang traumatik, karena disitulah Sarasa menerima kekerasan seksual oleh sepupunya sendiri. Ada adegan dimna Sarasa tiba-tiba menangis, pengalaman traumatik menghantui mimpinya dalam tidur.

    Sebelum bertemu kembali dengan Fumi, Sarasa sedang menjalin hubungan dengan Ryo (Ryuse Yokohama) seorang pekerja kantoran. Sekilas Ryo seperti pasangan yang sempurna, good looking, pekerjaan dan rumah yang mapan, tapi kemudian muncul sifat ingin dominan terhadap Sarasa. Ada scene dimana Ryo ingin berhubungan intim dengan sedikit memaksa, ekspresi tidak nyaman terpancar dari raut muka Sarasa. Berat untuk mengungkapkan masalah traumatik yang dialaminya kepada Ryo. Di ceritakan juga Ryo memiliki masa lalu yang buruk dengan ibunya, hal itu membuatnya jadi posesif kebablasan, bahkan sampai memukul Sarasa karena kecemburuan

    Fumi pun juga tak luput dari masa lalu yang kelam, sebab musabab kenapa Fumi tidak menjalin hubungan dengan perempuan dewasa akan terjawab di akhir film. Dunia tidak bisa di lihat hitam putih laiknya permasalahn setiap tokohnya cukup pelik dan sesak untuk membayangkan berada di posisi mereka.




Cast pemain film

Komentar

Postingan Populer